Vima 2, varietas baru kacang hijau yang
dilepas pada tahun 2014 memiliki karakter umur genjah (56 hari), masak
serempak dan hasil tinggi (2,44 t/ha). Varietas ini sangat cocok
dikembangkan di daerah dengan pengairan yang terbatas, yaitu lahan-lahan
yang dibiarkan bera setelah pertanaman padi. Percobaan telah dilakukan
di berbagai lokasi seperti di Gresik, Lamongan, Madiun, dan Demak.
Dengan menanam varietas Vima 2, petani dapat memperoleh hasil antara
1,75−2 t/ha, dengan tanpa pengairan selama pertumbuhan tanaman.
Budidaya kacang hijau di lahan bekas
pertanaman padi dilakukan paling lambat seminggu setelah padi dipanen.
Jerami padi dibabat hingga pangkal batang, kemudian segera ditugal dan
ditanami dengan jarak 40 x 10 cm, dengan harapan masih ada sisa air
tanah yang cukup untuk perkecambahan tanaman, tetapi apabila lahan
terlalu kering, maka benih kacang hijau direndam 2−3 jam pada malam hari
kemudian ditiriskan dan ditanam pada keesokan paginya. Setelah tanam,
jerami yang dihamparkan di lahan digunakan sebagai mulsa untuk
menghambat penguapan dan pertumbuhan gulma, serta mengurangi resiko
serangan lalat bibit.
Untuk memenuhi kebutuhan kacang hijau dalam negeri, hingga saat ini
masih tergantung pada kacang hijau impor. Dilaporkan bahwa Indonesia
pada periode lima tahun terakhir mengekspor kacang hijau sebanyak 24.019
ton, sedangkan impor sebanyak 42.655 ton. Peluang untuk meningkatkan
produksi kacang hijau nasional masih terbuka yaitu dengan memanfaatkan
lahan-lahan bera setelah tanaman padi pada musim kemarau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar